Pengertian dari 15 Macam Puisi Baru

“Buka buku halaman 80 buku bahasa indonesia paket!” Perintah Bu Sri kepada siswa kelas Xc Kala itu. lembar demi lembar aku buka agar sampai halaman itu. Wew,, sedikit terkejut karena isinya mengenai jenis puisi baru, dalam hatiku “opo wi artine?“. Mengingat banyak kosa kata baru yang aku temukan di sana. Seperti balada, Distikon, Eligi, Himne, dan kawan kawan. Dan tugasnya adalah disuruh mencari arti serta contoh dari macam-macam jenis puisi baru tersebut.. dan inilah hasil dari tugas saya..

Macam-Macam Puisi Baru


  1. Balada        :          Puisi atau sajak yang berbentuk cerita.
  2. Distikon     :          Puisi yg setiap baitnya terdiri atas dua baris, biasanya berima akhir.
  3. Elegi           :          Syair atau nyanyian yg mengandung ratapan dan ungkapan dukacita (khususnya pada peristiwa kematian).
  4. Himne        :          Nyanyian pujaan untuk  Tuhan Yang Maha Kuasa. Himne disebut juga sajak ketuhanan. Namun juga bisa untuk pujian terhadap pahlawan, tanah air, dan sebagainya.
  5. Quartrain   :          Sajak yang terdiri atas empat dalam satu bait.
  6. Ode           :          Sajak yang berisikan tentang puji-pujian kepada seseorang, bangsa, atau kepada sesuatu yang dianggap mulia.
  7. Oktav         :          Sajak yang terdiri atas delapan larik dalam satu bait. Oktav juga biasa disebut Stanza.
  8. Quinted      :          Sajak yang terdiri atas lima larik dalam satu bait.
  9. Religi          :         Sajak yang berisi tentang adanya kepercayaan kepada Tuhan.
  10. Romansa   :          Sajak atau puisi yang berisikan cerita tentang cinta kasih, baik cinta kasih kepada lain jenis kelamin, kepada bangsa dan negara, kedamaian, dan sebagainya.
  11. Satire         :           sajak atau puisi yang isinya sindiran mengancam, mengejek secara kasar terhadap kepincangan sosial atau ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat.
  12. Sektet        :           Sajak yang terdiri atas enam larik dalam satu bait.
  13. Septima     :           Sajak yang terdiri atas tujuh larik dalam satu bait.
  14. Soneta       :           Sajak yg terdiri atas empat bait biasanya 2 bait pertama masing-masing terdiri atas 4 baris dan 2 bait terakhir masing-masing terdiri atas 3 baris. Intinya soneta yang asli terdiri atas 14 baris, namun yang ada diIndonesia terkadang jumlah barisnya lebih dari 14 baris. Tambahan baris tersebut dinamakan koda atau ekor soneta.
  15. Terzina      :           Sajak yg terdiri atas tiga baris seuntai dng bagan rima a-b-a, b-c-b, c-d-c, d-c-d.

Contoh Puisi Baru

1. Contoh Balada :

Balada Terbunuhnya Atmo Karpo

Karya: W.S. Rendra

Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut bumi
Bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya di pucuk-pucuk para
Mengepit kuat-kuat lutut menunggang perampok yang diburu
Surai bau keringat basah, jenawi pun telanjang

Segenap warga desa mengepung hutan itu
Dalam satu pusaran pulang balik Atmo Karpo
Mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang
Berpancaran bunga api, anak panah di bahu kiri

Satu demi satu yang maju terhadap darahnya
Penunggang baja dan kuda mengangkat kaki muka.

Nyawamu barang pasar, hai orang-orang bebal!
Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang papa.
Majulah Joko Pandan! Di mana ia?
Majulah ia kerna padanya seorang kukandung dosa.

Anak panah empat arah dan musuh tiga silang
Atmo Karpo tegak, luka tujuh liang.

Joko Pandan! Di mana ia!
Hanya padanya seorang kukandung dosa.

Bedah perutnya atapi masih setan ia
Menggertak kuda, di tiap ayun menungging kepala

Joko Pandan! Di manakah ia!
Hanya padanya seorang kukandung dosa.

Berberita ringkik kuda muncullah Joko Pandan
Segala menyibak bagi reapnya kuda hitam
Ridla dada bagi derinya dendam yang tiba.
Pada langkah pertama keduanya sama baja.
Pada langkah ketiga rubuhlah Atmo Karpo
Panas luka-luka, terbuka daging kelopak-kelopak angsoka.

Malam bagai kedok hutan bopeng oleh luka
Pesta abulan, sorak sorai, anggur darah

Joko Pandan menegak, menjilat darah di pedang
Ia telah membunuh bapaknya.

2. Contoh Distikon :

Berkali kita gagal
Ulangi lagi dan cari akal
Berkali-kali kita jatuh
Kembali berdiri jangan mengeluh
(Or. Mandank)


3. Contoh Eligi :

Senja Di Pelabuhan Kecil

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

(Chairil Anwar)


4. Contoh Himne :

Bahkan batu-batu yang keras dan bisu

Mengagungkan nama-Mu dengan cara sendiri

Menggeliat derita pada lekuk dan liku

bawah sayatan khianat dan dusta.

Dengan hikmat selalu kupandang patung-Mu

menitikkan darah dari tangan dan kaki

dari mahkota duri dan membulan paku

Yang dikarati oleh dosa manusia.

Tanpa luka-luka yang lebar terbuka

dunia kehilangan sumber kasih

Besarlah mereka yang dalam nestapa

mengenal-Mu tersalib di datam hati.

(Saini S.K)


5. Contoh Quatrain :

Mendatang-datang jua
Kenangan masa lampau
Menghilang muncul jua
Yang dulu sinau silau
Membayang rupa jua
Adi kanda lama lalu
Membuat hati jua
Layu lipu rindu-sendu
(A.M. Daeng Myala)


6. Contoh Ode :

Generasi Sekarang
Di atas puncak gunung fantasi
Berdiri aku, dan dari sana
Mandang ke bawah, ke tempat berjuang
Generasi sekarang di panjang masa

Menciptakan kemegahan baru
Pantoen keindahan Indonesia
Yang jadi kenang-kenangan
Pada zaman dalam dunia
(Asmara Hadi)


7. Contoh Oktav :

Awan
Awan datang melayang perlahan
Serasa bermimpi, serasa berangan
Bertambah lama, lupa di diri
Bertambah halus akhirnya seri
Dan bentuk menjadi hilang
Dalam langit biru gemilang
Demikian jiwaku lenyap sekarang
Dalam kehidupan teguh tenang
(Sanusi Pane)


8. Contoh Quintet :

Hanya Kepada Tuan
Satu-satu perasaan
Hanya dapat saya katakan
Kepada tuan
Yang pernah merasakan
Satu-satu kegelisahan
Yang saya serahkan
Hanya dapat saya kisahkan
Kepada tuan
Yang pernah diresah gelisahkan
Satu-satu kenyataan
Yang bisa dirasakan
Hanya dapat saya nyatakan
Kepada tuan
Yang enggan menerima kenyataan
(Or. Mandank)


9. Contoh Religi :

Contoh puisi ini mirip dengan Eligi..

10. Contoh Romansa :

Anakku

Ya, kekasihku……

Engkau datang mengintai hidup,

Engkau datang menunjukkan muka,

Tetapi sekejap matamu kau tutup,

Melihat terang ananda tak suka.

Mulut kecil tiada kau buka,

Tangis teriakmu tak diperdengarkan,

Alamat hidup wartakan suka,

Kau diam anakku, kami kau tinggalkan.

Sedikitpun matamu tak mengerling,

memandang ibumu sakit berguling,

Air matamu tak bercucuran.

Kau diam, diam kekasihku,

Tak kau katakan barang pesanan,

Akan menghibur duka di dadaku,

Kekasihku, anakku, mengapa diam?

(JE. Tatengkeng)


11. Contoh Satire :

Aku bertanya

tetapi pertanyaan-pertanyaanku

membentur jidad penyair-penyair salon,

yang bersajak tentang anggur dan rembulan,

sementara ketidakadilan terjadi

di sampingnya,

dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan,

termangu-mangu dl kaki dewi kesenian.

(W.S. Rendra)


12. Contoh Sektet :

Merindu Bagia
Jika hari’lah tengah malam
Angin berhenti dari bernafas
Sukma jiwaku rasa tenggelam
Dalam laut tidak terwatas
Menangis hati diiris sedih
(Ipih)


13. Contoh Septima :

Indonesia Tumpah Darahku
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung gemunung bagus rupanya
Ditimpah air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya
(Muhammad Yamin)


14. Contoh Soneta :

Gembala
Perasaan siapa ta ‘kan nyala ( a )
Melihat anak berelagu dendang ( b )
Seorang saja di tengah padang ( b )
Tiada berbaju buka kepala ( a )
Beginilah nasib anak gembala ( a )
Berteduh di bawah kayu nan rindang ( b )
Semenjak pagi meninggalkan kandang ( b )
Pulang ke rumah di senja kala ( a )
Jauh sedikit sesayup sampai ( a )
Terdengar olehku bunyi serunai ( a )
Melagukan alam nan molek permai ( a )
Wahai gembala di segara hijau ( c )
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau ( c )
Maulah aku menurutkan dikau ( c )
(Muhammad Yamin)


15. Contoh Terzina :

Dalam ribaan bahagia datang
Tersenyum bagai kencana
Mengharum bagai cendana
Dalam bah’gia cinta tiba melayang
Bersinar bagai matahari
Mewarna bagaikan sari
(Dari :  Madah Kelana)
(Karya : Sanusi Pane)

Source :

http://kamusbahasaindonesia.org/

http://zhi3pisces.wordpress.com/

Abdul Rani, Supratman. 1996. Ikhtiar Sastra Indonesia. Bandung: Pustaka Setia.

12 comments on “Pengertian dari 15 Macam Puisi Baru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s